Senyummifan’s Blog

Just another WordPress.com weblog

Cheque Kosong

11 Agustus 2008

Akhir-akhir ini, pak Adil sering pulang larut malam. Seperti biasa, untuk menyambut kedatangan sang suami, bu Adil telah menyiapkan seember air hangat untuk mandi, yang telah dicampur dengan garam. Handuk bersih dan piyama batik kesukaan pak Adil, juga telah disediakan. Di atas meja makan, telah pula terhidang susu coklat hangat dan cemilan kegemaran suaminya, pisang bakar lapis coklat bertabur keju. Komposisi hidangan tadi adalah menu tanggal muda. Bila tanggal telah beranjak menua, menu tadi berubah menjadi teh tawar hangat dan singkong rebus. Tidak lupa, sprei tempat tidur juga telah diganti dengan yang baru, berwarna merah jambu. Beberapa kuntum bunga melati, yang pohonnya ditanam di halaman rumah, sengaja ditaburkan bu Adil di atas peraduan dan dibawah bantal. Bu Adil sudah mafhum, suaminya tercinta, sedang sibuk mengikuti kuliah malam, meneruskan pendidikan ke jenjang S 2. Pak Adil, sebagai kader da’wah yang juga aktifis di sebuah partai politik, sedang tertarik mendalami ilmu politik. 

Salah satu dosen yang mengajar ilmu politik di kampus tersebut, bernama pak Sujahtra. Beliau merupakan dosen favorit, banyak disukai anak didiknya, terutama dari kalangan mahasiswi, yang mengira beliau masih lajang. Belakangan, setelah mengetahui bahwa pak Sujahtra ternyata telah beranak sembilan, para penggemarnya yang mahasiswipun merasa kecewa. Suatu hari, pak Sujahtra mengejutkan para mahasiswanya, dengan mengadakan quiz secara mendadak. Para mahasiswa diminta untuk menyiapkan kertas jawaban, dan pak Sujahtra mulai membagikan soal quiz, dengan aturan boleh membuka buku. Soal quiz tersebut, terdiri dari beberapa pertanyaan yang diawali dengan kalimat tanya, bagaimana. 

Bagaimana membangunkan sebagian kader yang mulai malas-malasan, karena mereka berfikir bahwa, kemenangan pemilu legislatif 2009, hanya akan mengantar segelintir elite partai, menjadi OKB, orang kaya baru. 

Bagaimana menjelaskan kepada para kader yang kritis bahwa, kerjaan aleg tidak hanya 4D, datang, duduk, diam, dan duit.

Bagaimana menyemangati para kader untuk tetap ikhlas berdirect selling, sementara sebagian kader mulai khawatir, jangan-jangan mereka hanya dimanfaatkan segelintir elite partai untuk memperbaiki kondisi ekonominya, dengan menjadi aleg. 

Bagaimana meyakinkan para kader untuk tetap ringan berinfaq, sementara sebagian kader menemukan kenyataan bahwa, beberapa caleg adalah kader yang bermasalah dari segi tarbiyahnya, namun dekat dengan petinggi partai.

Bagaimana mengobati luka hati seorang kader, demi melihat ustadnya yang aleg tidak memberi tumpangan kala lewat dengan mobil gagahnya dan berkaca mata hitam pula, sementara sang kader berpanas panas di tepi jalan menunggu angkot kosong.

Bagaimana menggembirakan hati kader yang gundah gulana, kala mendengar ustadnya yang aleg asyik bercerita tentang kesibukan merenovasi rumah, sementara sang kader masih tetap istiqomah di jalur kontraktor.

Bagaimana mungkin seorang aleg akan berjalan dengan kepala tegak di hadapan para kader yang dahulu memilihnya, sementara kiprahnya selama ini tidak jelas, tetapi tahun depan tetap akan dicalonkan kembali.

Gelegar suara pak Sujahtra yang memberitahukan bahwa waktu yang tersisa untuk mengerjakan quiz tinggal lima menit lagi, menyadarkan pak Adil dari lamunannya. Tangannya mulai memijit-mijit dahinya yang semakin lebar seiring bertambahnya umur, berharap tindakan tersebut bisa mengencerkan otak. Lembar jawaban di atas mejanya, masih putih bersih. Ternyata, kuliah S 2, tidak mudah.

November 11, 2008 Posted by senyummifan | Uncategorized | , , , , , , , , , , , , , , , , | No Comments Yet