Peredaran Harta
28 Jun 2008
Tadi pagi, saya melihat penuh sesaknya sebuah swalayan milik non Muslim oleh para pembelanja. Nampaknya, mereka sedang belanja untuk kebutuhan bulanan. Diantara mereka terdapat beberapa ibu-ibu berjilbab, yang tampak kerepotan menenteng tas-tas belanjaan yang besar penuh muatan. Sebuah pemandangan yang memilukan, karena swalayan tadi terletak hanya beberapa puluh meter dari Ahad Mart, yang juga menjual barang-barang yang sama. Lain halnya kalau barang yang ingin kita beli tidak terdapat di toko milik saudara kita, misalnya kita hendak membeli daging atau sayuran pada malam hari, atau membeli bakso atau gudeg yang tempatnya menyewa di areal swalayan tersebut. Atau, kita mendatangi swalayan tersebut hanya untuk melihat-lihat saja.
Salah seorang pengurus yayasan yang mengadakan acara pembubaran panitia di sebuah rumah makan lesehan, terkejut ketika membayar harga makanan di kasir, bukan karena harganya yang mahal, tetapi karena mendapati simbol-simbol agama non Islam dengan megahnya terpampang di ruangan kasir, bahkan di kalung yang dikenakan mbak kasir. Alangkah baiknya, kalau kita lebih berhati-hati di dalam membelanjakan harta kita. Sudah banyak teman-teman kita yang belajar berwirausaha.
Saatnya kita untuk mempraktekan belanja berpahala. Ketika kita membutuhkan rekreasi berupa makan di luar rumah, maka kita bisa ke RM Ronggolawenya akh Narsip, atau ke wong solo, biar ketularan pak Puspo (maksudnya, ketularan sukses), atau mencoba sate kambingnya bu Irma yang mak nyuz. Ada teman yang menyampaikan ketidak enakan hatinya kalau makan di tempat makan milik saudara kita dengan menyampaikan kemungkinan, bagaimana kalau akh Narsip memergoki kita yang sedang makan di ronggo dan kemudian menolak untuk dibayar. Maka akhi, itulah yang dinamakan dengan rizqi dari arah yang tidak disangka-sangka. Ketika AC di rumah sudah agak menghangat, maka kita bisa ke akh Slamet untuk menyembuhkannya sekaligus kita bisa menghubungi beliau ketika kita membutuhkan mobil untuk disewa. Dsb. Dsb.
Memang, tidak semua kebutuhan kita bisa dipenuhi oleh teman-teman kita. Tetapi setidaknya, mulai
sekarang, kita bisa belajar untuk belanja dengan setia, tidak ke lain hati. Terima kasih.
No comments yet.
Leave a comment
| Next »
-
Recent
-
Links
-
Archives
- November 2008 (12)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS