Senyummifan’s Blog

Just another WordPress.com weblog

Kata Berkesan

1 Agustus 2008
Sewaktu masih sekolah di SMU dahulu, saya sering melewati rumah sastrawan Kho Ping Ho, yang terletak di belakang gedung sekolah. Bagi para penikmat novel silat mandarin, nama beliau tentu sudah tidak asing lagi. Kondang misuwur. Sekolah kami, satu satunya SMU negeri yang hampir setengahnya siswanya berasal dari keturunan tiong hoa, memang terletak di kawasan pecinan, suatu area yang dikenal dengan sebutan Balong. Lidah jawa akan mengucapkannya sebagai Embalong.

Ketika kerusuhan rasial melanda kota, rumah sastrawan tersebut termasuk salah satu rumah warga keturunan tiong hoa yang tidak dirusak oleh massa. Mungkin karena sebagian besar massa adalah penikmat karyanya, atau mungkin karena sastrawan tersebut menikahkan salah satu anaknya dengan warga keturunan pribumi. Wallahua’alam.

Bila diibaratkan, milis ini mirip dengan surat kabar. Para pembacanya (baca: pelanggan) adalah sebagian besar kadin yang tinggal di pondok aren. Para kontributor tulisan, mirip dengan para jurnalis dan kolumnis di suratkabar. Salah satu keuntungan milis ini adalah, separah apapun tulisan kita, pasti akan dimuat oleh pak Eka. Paling-paling, kalau dirasa kurang pas, biasanya akan ditegur oleh moderator atau dihajar dengan kritikan oleh para pembaca. Dengan demikian, milis ini bisa menjadi media untuk berlatih menulis, sebelum kita menjadi seterkenal mas Narsip atau mas Nurul Bin Nahadi, yang tulisannya sering manggung di suratkabar beneran.  Para kontributor tulisan di milis ini, bolehlah dijuluki sebagai sastrawan milis. Nama pena para sastrawan milis inipun cukup sangar, ada yang berjuluk black biker, kembara 275, ibnu alias nurul, dsb. Sungguh semarak.

Salah satu tulisan ustadz Anis Matta di majalah Tarbawi, adalah mengenai sastra. Tulisan itu berkisah mengenai nasihat Umar Bin Khattab tentang bagaimana cara kita mendidik anak, agar anak menjadi pemberani. Didiklah anak untuk mencintai kesusasteraan, demikian nasihat Umar bin Khatab. Al Qur An, kalau boleh disebut sebagai karya sastra, adalah puncak mahakarya kesusasteraan. Inilah rahasianya, mengapa para qiyadah menganjurkan kita untuk sedikitnya membaca Al Qur An satu juz sehari. Nampaknya, kita diharapkan untuk menjadi pribadi pribadi yang senantiasa optimis dan pemberani. Juga, agar kita memiliki perkataan yang berkesan, sebagai modal utama seorang da’i.  Meskipun demikian, menyetor hafalan Al Qur An menjadi acara halaqoh yang paling disegani oleh sebagian besar kader.

Mengajarkan anak untuk mencintai kesusateraan berarti mengajarkan mereka untuk gemar membaca. Usaha untuk menumbuhkan kegemaran membaca, mendapat musuh yang berat dari televisi, dan keturunannya, play station. Bagaikan sebuah halaqoh, televisi menjadi murabbi yang efektif dan menyenangkan, karena materi yang diajarkannya sangat mudah diserap anak. Tanpa terasa, anak bisa menghabiskan waktu lebih dari empat jam sehari, di hadapan kotak ajaib tersebut.. Bayangkan kalau kita halaqoh beneran selama empat jam, niscaya duduk kita sudah resah gelisah, berkali kali melirik jam, dan menguap semakin sering. Konon kabarnya, mantan Jaksa Agung AS, Janet Reno, hampir tidak pernah menonton televisi. Mungkin, beliau ingin hatinya tetap jernih, saat sedang mengajukan tuntutan tuntutan hukum. Memang benar, apa apa yang kita lihat, berpotensi untuk mengotori hati.  

Sebagian besar para tokoh sejarah, adalah penikmat sastra. Salah satu dugaan kuat mengapa tentara Jerman tidak menghancurkan pasukan Inggris dalam perang Belgia, padahal kesempatan untuk itu sangat terbuka, adalah karena kekaguman Hitler terhadap Britania sebagai penghasil sastrawan kaliber dunia. Hitler menghentikan serangan, dan terjadilah adegan penyeberangan dunkirk yang terkenal itu, dimana ribuan pasukan Inggris yang telah terkepung, dengan menggunakan segala macam benda yang bisa mengapung di laut, menyeberangi selat dunkirk, pulang ke Inggris.

Selain pidato terkenalnya Thariq Bin Ziyad sebelum memulai perang Eropa, sejarah Islam juga mencatat banyak pidato-pidato puitis legendaris yang dibacakan menjelang peperangan. Dalam sebuah puisinya, penyair taufiq Ismail, yang sering menciptakan syair bagi lagu lagunya Bimbo, mengisahkan tentang penyair Aceh abad 19, Tuanku Cik Pantee Kulu. Beliaulah yang menggubah puisi Aceh yang legendaris, hikayat perang sabil. Puisi inilah yang dibacakan di hadapan pasukan Aceh, menjelang pasukan memulai peperangan. Puisi ini, ditulis Tuanku Cik Pantee Kulu sepulang melaksanakan ibadah haji, di atas kapal laut. Taufiq Ismail menggambarkan, ketika puisi gubahan Tuanku Cik Pantee Kulu tersebut diserahkan kepada panglima perang Tuanku Cik DiTiro, puisi ini seolah-olah berubah menjadi seribu rencong. Demikian hebatnya pengaruh pembacaan puisi ini di hadapan pasukan, sehingga seolah-olah mampu mendidihkan darah dan memanggang udara, demikian tulis Taufiq Ismail.

Oda Nobunaga, tokoh samurai pemersatu Jepang pada abad 16, yang hidup sejaman dengan tokoh samurai Mushashi, juga selalu berpidato sebelum memimpin peperangan. Pidatonya begitu puitis, hingga menggelorakan semangat para prajuritnya. Hidup ini hanyalah 50 tahun di bawah langit, demikian bunyi salah satu pidato puitisnya.   Pidato ini sedikit banyak menjelaskan, mengapa bangsa Jepang berlomba untuk meraih prestasi pada usia yang dini, karena mereka membayangkan seolah-olah hidup hanya sampai usia 50 tahun saja. Mirip dengan kita, masyarakat Muslim, yang membayangkan seolah-olah hidup hanya sampai usia 63 tahun.

Kata-kata yang sederhana, namun berkesan, ternyata mampu menggerakkan peristiwa besar, dan menjadi catatan sejarah.  Dalam sebuah peperangan, Jenghis Khan terkena panah lehernya. Beruntung, sang penakluk yang tersohor tersebut tidak sampai meninggal. Tim medis berhasil menyelamatkan nyawa Temujin, nama kecil Jenghis Khan. Ketika perang berakhir, dengan kemenangan di pihak  Jenghis Khan, Jebe, nama si pemanah yang sukses membidik leher Temujin tadi, berhasil diringkus dan dibawa ke hadapan Jenghis Khan, siap untuk dieksekusi. Di hadapan Temujin, Jebe mengatakan bahwa seandainya dia dibunuh, maka muncratan darahnya hanya akan mengotori bumi seluas telapak tangan saja, tidak lebih. Tetapi, kalau dia dibebaskan, dia berjanji akan membantu Jenghis Khan menaklukan negeri negeri yang luas. Berkat kata-kata Jebe yang mengesankan ini, Jenghis Khan membebaskannya, meskipun Temujin sempat berada di ambang batas hidup dan mati. Di kemudian hari, Jebe, yang menyandang gelar si pemanah, diangkat menjadi salah satu panglima Jenghis Khan dan menaklukan beberapa Negara di Asia. Jebe menepati janjinya.   

Ketika memulai penyerbuan ke Normandia, panglima gabungan sekutu dalam perang dunia kedua, Eisenhower, mengeluarkan kata kata perintah yang sederhana namun  berkesan: “kalian akan memasuki Eropa daratan dan menjalankan operasi-operasi militer yang dipusatkan ke jantung negara Jerman dan penghancuran angkatan bersenjatanya”. Perintah sederhana tersebut menggerakan lebih dari 4 juta tentara, 5 ribu kapal laut, 5 ribu pesawat pemburu, dan 6 ribu pesawat pembom ke dalam pertempuran memperebutkan Eropa.

Lagi lagi, mirip dengan kita. Kalimat perintah sederhana di layar hape, juga mampu menggerakkan ribuan kader kita, untuk memenuhi monas ataupun bunderan HI. Sebelum berkhidmat dalam gerakan da’wah, Syaikh Umar Tilmisani adalah seorang pengacara yang sukses secara materi. Beliau memiliki kegemaran memelihara binatang, sehingga halaman rumahnya mirip kebun binatang mini. Suatu hari, beberapa orang ikhwah yang bekerja sebagai penjaga pintu kereta api, bertamu ke rumah beliau. Para ikhwah tadi mengatakan, alangkah baiknya kalau kegemaran beliau memelihara binatang dialihkan kepada memelihara ummat Islam, karena ummat Islam jauh lebih layak untuk dipelihara. Kata-kata berkesan inilah yang mengubah perjalanan hidup beliau selanjutnya.

Meskipun demikian, kata kata yang terlalu berkesan, bisa membahayakan hubungan persahabatan diantara sesama anggota halaqoh. Ceritanya begini. Salah seorang anggota halaqoh, mulai sering tidak hadir di acara pekanan beberapa kali berturut turut, meskipun dengan pemberitahuan ke pak boss dan disertai dengan alasan. Pada hari dilaksanakannya acara pekanan, salah satu sahabatnya berinisiatif mengingatkan dengan mengirim sms yang berbunyi, akhi, apakah malam ini antum akan absen lagi sebagaimana pertemuan-pertemuan sebelumnya? Alasan apa lagi yang akan antum kemukakan hari ini?”.  Untunglah, anggota halaqoh yang menerima sms tadi, meskipun sempat tersinggung berat, masih memiliki cadangan maaf yang banyak, sehingga ketegangan bisa diredakan dengan cepat dan persahabatan menjadi pulih kembali. Berkat saling memaafkan. Alangkah indahnya ukhuwwah.

November 11, 2008 - Posted by | Senyum dong | , , , , , , , , , , , , ,

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.