Hino atau Isuzu Panther
28 Jun 2008
Dahulu, pak boss (sebutan kami untuk xxxx) pernah membagikan daftar isian kepada kami untuk dicalonkan sebagai aleg di berbagai tingkatan. Semua anggota di grup kami, mendapatkannya. Pak Boss mengingatkan bahwa kami boleh mengisi daftar tersebut dengan cengengesan, tetapi, ketika ternyata amanah itu diberikan Alloh, maka kami tidak boleh mundur. Saya termasuk salah satu anggota grup yang tidak mengisinya. Saya khawatir, kalau kalau Alloh memberikan kemenangan yang sangat besar sehingga orang yang tidak cakap seperti saya, tiba-tiba bisa menjadi anggota dewan.
Saya menjadi teringat dengan iklan truk Hino, yang dikatakan sebagai jagoan cari duit. Saya merasa belum pantas menjadi aleg karena belum memiliki keahlian, seperti bunyi iklan truk hino tersebut. Kesimpulan ini saya dapatkan ketika saya menjenguk anak yang sedang sekolah di sebuah pesantren di bogor. Saat itu, saya mendengarkan pembicaraan beberapa orang tua murid mengenai anggota dewan. Mereka berpendapat bahwa ketika kita menjadi pejabat, maka ummat mengharapkan kita untuk memberi ikan atau memberi pancing. Memang, aleg telah memberikan sebagian penghasilan mereka kepada ummat melalui potongan, namun, sisa penghasilan setelah dipotong ditambah dengan penghasilan lain-lain yang kerap tidak dilaporkan, masih cukup besar untuk menambah simbol-simbol kemakmuran, semisal turonggo dan wismo. Maka, ketika ada aleg yang tidak mampu memberi ikan atau pancing kepada ummat, kecuali hanya dipotong sebagian penghasilannya, sedangkan kiprahnya di dewan seperti bunyi iklan mobil isuzu panther, nyaris tak terdengar, sementara aleg yang bersangkutan tidak bisa tampil sederhana, suara sumbanglah yang akan terdengar.
Kecanggungan aleg tampil di depan publik, masih bisa dipoles dengan mengikuti kursus-kursus semacam kursus kepribadian john robert power, misalnya. Kegagapan akademis aleg, masih bisa disembuhkan dengan keberadaan staf ahli. Namun, ketidakmampuan aleg untuk memberikan ikan dan pancing inilah yang paling sulit diatasi, tanpa meninggalkan citra bersih, peduli, dan professional. Seorang teman pernah mengusulkan agar kader yang akan dicalonkan sebagai pejabat, semisal aleg, diminta sejumlah uang, (misalnya 200 juta, bagi kader yang sedang menjadi aleg dan ingin dicalonkan lagi) untuk DPRD Tk II, dst, sehingga akan memaksa kader tersebut untuk kreatif dalam mencari ikan dan pancing, tanpa menodai kebersihan, kepedulian, dan keprofessionalan kita.
Saya membayangkan, seandainya semua kader kita yang menjadi pejabat piawai dalam mencari ikan dan pancing, maka kita tidak perlu lagi menyewa kantor DPC, bahkan DPRa. Dan lembaga-lembaga ekonomi, seperti koperasi yang sedang dirintis akh Syamsudin, akan tumbuh untuk menampung ikan-ikan tersebut, serta menjalankan peran seperti halnya BMT- BMT yang menggulirkan dana qordhul hasan. Nantinya, setiap usar, akan diwajibkan untuk memiliki usaha perdagangan, dengan memanfaatkan qordhul hasan tersebut. Setelah itu, kader yang pejabat tadi tidak perlu risih ketika mengendarai mazda rx 8 karena sudah berkontribusi dalam mencetak Abdurrahman Bin Auf – Abdurrahman Bin Auf yang baru.
No comments yet.
Leave a comment
-
Recent
-
Links
-
Archives
- November 2008 (12)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS