Senyummifan’s Blog

Just another WordPress.com weblog

Cheque Kosong

11 Agustus 2008

Akhir-akhir ini, pak Adil sering pulang larut malam. Seperti biasa, untuk menyambut kedatangan sang suami, bu Adil telah menyiapkan seember air hangat untuk mandi, yang telah dicampur dengan garam. Handuk bersih dan piyama batik kesukaan pak Adil, juga telah disediakan. Di atas meja makan, telah pula terhidang susu coklat hangat dan cemilan kegemaran suaminya, pisang bakar lapis coklat bertabur keju. Komposisi hidangan tadi adalah menu tanggal muda. Bila tanggal telah beranjak menua, menu tadi berubah menjadi teh tawar hangat dan singkong rebus. Tidak lupa, sprei tempat tidur juga telah diganti dengan yang baru, berwarna merah jambu. Beberapa kuntum bunga melati, yang pohonnya ditanam di halaman rumah, sengaja ditaburkan bu Adil di atas peraduan dan dibawah bantal. Bu Adil sudah mafhum, suaminya tercinta, sedang sibuk mengikuti kuliah malam, meneruskan pendidikan ke jenjang S 2. Pak Adil, sebagai kader da’wah yang juga aktifis di sebuah partai politik, sedang tertarik mendalami ilmu politik. 

Salah satu dosen yang mengajar ilmu politik di kampus tersebut, bernama pak Sujahtra. Beliau merupakan dosen favorit, banyak disukai anak didiknya, terutama dari kalangan mahasiswi, yang mengira beliau masih lajang. Belakangan, setelah mengetahui bahwa pak Sujahtra ternyata telah beranak sembilan, para penggemarnya yang mahasiswipun merasa kecewa. Suatu hari, pak Sujahtra mengejutkan para mahasiswanya, dengan mengadakan quiz secara mendadak. Para mahasiswa diminta untuk menyiapkan kertas jawaban, dan pak Sujahtra mulai membagikan soal quiz, dengan aturan boleh membuka buku. Soal quiz tersebut, terdiri dari beberapa pertanyaan yang diawali dengan kalimat tanya, bagaimana. 

Bagaimana membangunkan sebagian kader yang mulai malas-malasan, karena mereka berfikir bahwa, kemenangan pemilu legislatif 2009, hanya akan mengantar segelintir elite partai, menjadi OKB, orang kaya baru. 

Bagaimana menjelaskan kepada para kader yang kritis bahwa, kerjaan aleg tidak hanya 4D, datang, duduk, diam, dan duit.

Bagaimana menyemangati para kader untuk tetap ikhlas berdirect selling, sementara sebagian kader mulai khawatir, jangan-jangan mereka hanya dimanfaatkan segelintir elite partai untuk memperbaiki kondisi ekonominya, dengan menjadi aleg. 

Bagaimana meyakinkan para kader untuk tetap ringan berinfaq, sementara sebagian kader menemukan kenyataan bahwa, beberapa caleg adalah kader yang bermasalah dari segi tarbiyahnya, namun dekat dengan petinggi partai.

Bagaimana mengobati luka hati seorang kader, demi melihat ustadnya yang aleg tidak memberi tumpangan kala lewat dengan mobil gagahnya dan berkaca mata hitam pula, sementara sang kader berpanas panas di tepi jalan menunggu angkot kosong.

Bagaimana menggembirakan hati kader yang gundah gulana, kala mendengar ustadnya yang aleg asyik bercerita tentang kesibukan merenovasi rumah, sementara sang kader masih tetap istiqomah di jalur kontraktor.

Bagaimana mungkin seorang aleg akan berjalan dengan kepala tegak di hadapan para kader yang dahulu memilihnya, sementara kiprahnya selama ini tidak jelas, tetapi tahun depan tetap akan dicalonkan kembali.

Gelegar suara pak Sujahtra yang memberitahukan bahwa waktu yang tersisa untuk mengerjakan quiz tinggal lima menit lagi, menyadarkan pak Adil dari lamunannya. Tangannya mulai memijit-mijit dahinya yang semakin lebar seiring bertambahnya umur, berharap tindakan tersebut bisa mengencerkan otak. Lembar jawaban di atas mejanya, masih putih bersih. Ternyata, kuliah S 2, tidak mudah.

November 11, 2008 Posted by | Uncategorized | , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment

Musuhmu Gurumu

6 Agustus 2008
Diperlukan tekanan dan suhu yang tinggi, untuk membentuk karbon, sesuatu yang relatif tidak berharga, menjadi sesuatu yang berharga, intan berlian. Miskinnya sumber daya alam, menurut sebagian pengamat ekonomi, menjadi salah satu faktor yang membuat bangsa Jepang menjadi bangsa yang maju. Tekanan yang dialami manusia, bisa memunculkan kemampuan-kemampuan tersembunyi, yang selama ini tidak disadarinya. Maka, dalam kondisi yang penuh tekanan, biasanya akan muncul keajaiban-keajaiban. Ketika mengalami tekanan, manusia bisa menghasilkan prestasi atau sebaliknya, kegagalan.

Kondisi yang paling ideal bagi seorang Muslim adalah, kondisi yang memungkinkan dia untuk selalu dekat dengan Alloh SWT. Salah satu kondisi yang memungkinkan terjadinya kedekatan dengan Alloh SWT adalah kondisi dimana kaum Muslimin mengalami tekanan. Misalnya, kondisi peperangan. Dalam perang, terdapat momen diistijabahnya do’a, yaitu ketika bertemunya dua pasukan. Menjelang perang badar, Rasulullah dan pasukan Muslim baru menyadari bahwa pasukan musuh yang mereka hadapi adalah pasukan terbaik kaum kafir Quraisy dengan jumlah yang lebih banyak, bukan kafilah dagang. Saat dua pasukan berhadap-hadapan adalah saat yang paling dekat dengan Alloh SWT, saat dimana batas kematian begitu dekat. Rasulullahpun berdoa dengan segenap perasaan, agak memaksa kepada Alloh, agar memberikan kemenangan.

Pilkada di DKI beberapa saat yang lalu, juga merupakan contoh, bagaimana tekanan dikeroyok kompetitor, menghasilkan peningkatan militansi kader yang luar biasa. Terjadi peningkatan amalan-amalan ibadah para kader, yang maknanya adalah, kedekatan dengan Alloh SWT semakin meningkat.

Dalam sebuah puisinya, penyair Muhammad Iqbal menulis bahwa, musuh adalah guru yang menyamar. Karena memiliki guru yang hebat, yaitu gabungan tentara yahudi dan tentara salib, Hamas mengalami percepatan yang mengagumkan. Bentuk perlawanan Hamas, yang mula-mula dengan cara melempar batu, mengalami peningkatan. Hingga sekarang, Hamas bisa membuat roket dengan daya jangkau antar kota antar propinsi. Bermula dari halaqoh halaqoh di dalam kamar berukuran 2,75 x 3,25 m, hingga sekarang ini, Hamas mampu mengendalikan jalur gaza.

Inilah rahasianya, mengapa bangsa yang maju selalu mencari musuh atau menciptakan musuh. Tujuannya untuk memelihara kemampuan mereka. Mereka membutuhkan tekanan untuk meningkatkan prestasi mereka. Rasulullah SAW pernah melarang para sahabat yang hendak ikut mengelola pertanian di Khaibar, pasca penaklukannya. Selain karena keahlian bertani para sahabat yang masih di bawah kaum yahudi, Rasulullah SAW juga khawatir, kalau-kalau sahabat tadi kehilangan kemampuan bertempurnya. Frekuensi pertempuran yang dialami Rasulullah dan para Sahabat yang begitu rapat, membuat keahlian bertempur terus menerus mengalami peningkatan dan menjadi watak, mengkultur. Sejarah membuktikan, masa keemasan kaum Yahudi di Eropa terjadi, ketika Khalifah Abdurrahman keturunan Umayyah menguasai Spanyol. Khalifah Abdurrahman memiliki julukan, ad dakhil, sang penyusup. Kekuatan militer Spanyol waktu itu, merupakan yang terkuat di dunia, setelah kekhalifahan Baghdad keturunan Abbasiyah, Al Mansur. Mereka berdua, Abdurrahman dan Al Mansur, hidup sejaman, dan saling bersaing. Ketika ummat Islam berkuasa, yang artinya memegang kekuatan militer, ummat yang lain akan memperlihatkan potensi-potensi terbaik mereka. Ini menunjukkan bahwa, kekuatan militer mutlak harus dipegang kaum Muslimin.

Meremehkan musuh, akan menyebabkan kekalahan. Guru, meski menyamar, tetap harus disegani dan dihormati. Berkaca pada pilkada kabupaten yang lalu, dukungan banten satu dengan segenap dana dan SDM-nya, membuat kita mengecilkan musuh. Seolah-olah, kemenangan sudah di depan mata. Penurunan militansi para kader, salah satu ukurannya adalah rendahnya tingkat kehadiran kader di acara mabit, terlihat jelas.

Dengan demikian, menciptakan musuh yang kuat dan tangguh, ikut menentukan kemenangan PKS di tahun 2009. Inilah tugas kita bersama, mencari musuh yang kuat dan tangguh, agar militansi kita semakin meningkat dan membuat kita semakin dekat dengan Alloh SWT.

November 11, 2008 Posted by | Senyum dong | , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment

Tema-Tema Besar

1 Agustus 2008
Isteri saya pernah dibuat kagum dengan pengetahuan tetangga kami yang baru. Sang isteri, yang belum tarbiyah dan hanya mengenakan jilbab ala kadarnya, ternyata mengetahui dengan detil tentang hal ikhwal beberapa tetangga kami, yang kami sendiri sebagai penghuni lama, tidak mengetahuinya. Misalnya, tentang kepemilikan mobil baru, rumah baru, dan kondisi rumah tangga secara rinci. Itulah sejauh jauh pengetahuan mereka, jawab saya, menenangkan isteri saya yang merasa kuper. Ketika seseorang tidak disibukkan dengan permasalahan dakwah, permasalahan ummat, dia akan dibuat sibuk dengan hal-hal yang lain.

Salah satu tipu daya Setan adalah, membuat kita berkutat dengan hal-hal yang remeh dan melupakan urusan-urusan yang besar. Keluarga besar isteri saya, adalah para aktifis di organisasi Persatuan Islam, Persis. Kegiatan para aktivisnya agak mirip dengan teman-teman di jemaah salafy. Mereka serius menekuni permasalahan permasalahan “remeh”, semisal bagaimana menggerakan telunjuk sewaktu duduk tasyahud, atau  apakah makmum yang ketinggalan bacaan Al fatihah tetap dihitung satu rekaat. Namun, ketika harus memutuskan untuk memilih salah satu partai Islam, mereka kebingungan.

Keunggulan gerakan dakwah kita adalah, hampir selalu mengurusi perkara perkara yang besar. Permasalahan-permasalahan besar, mudah menjadikan ummat untuk bersatu. Sedangkan kita mengetahui bahwa membentuk ukhuwwah islamiyah, wajib hukumnya. Permasalahan pembebasan Palestina, bagaimana meningkatkan kesejahteraan ummat, merupakan permasalahan yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

Di saat perdana menteri Israel yang cewek, Golda Meir, ketika ditanya wartawan tentang batas negara Israel, yang dijawab dengan tegas bahwa batas negara israel adalah sejauh prajurit Israel mampu menancapkan kakinya, kita masih sibuk mengurusi apakah kambing yang melewati sutrah boleh disembelih dan dagingnya dimasak tengkleng yang rasanya mak nyus.

Memang betul, kita juga tidak boleh abai dengan hal-hal yang kecil. Saya tidak tahu apakah ungkapan yang pernah disampaikan oleh pak boss kami ini pas untuk menggambarkan permasalahan ini, bahwa, setan ada di rincian, the devils is in the details. Harus ada diantara kita yang setia menekuni pernik-pernik ini, disaat sebagian besar ikhwah yang lain sibuk menggarap urusan-urusan besar. Dengan demikian, ketika ada pertanyaan tentang bagaimana hukumnya bagi makmum yang setelah selesai sholat, mengusap mukanya imam. Kita dengan mudah bisa menjawab bahwa perbuatan tersebut tidak diperbolehkan, karena selain tidak ada haditsnya, juga kemungkinan besar sang imam akan memberikan hadiah berupa bogem mentah akibat dianggap tidak sopan. Lebih dianjurkan untuk mengusap muka kita sendiri yang telah keriput karena dimakan usia. Atau, apakah Rasulullah pernah mencontohkan bahwa setiap selesai sholat kita selalu mengaktifkan kembali hape kita. Atau bolehkah setelah selesai sholat Shubuh kita langsung melesat ke toilet akibat semalam menyantap nasi goreng ekstra pedas. Afwan, just kidding.

November 11, 2008 Posted by | Senyum dong | , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment

Kata Berkesan

1 Agustus 2008
Sewaktu masih sekolah di SMU dahulu, saya sering melewati rumah sastrawan Kho Ping Ho, yang terletak di belakang gedung sekolah. Bagi para penikmat novel silat mandarin, nama beliau tentu sudah tidak asing lagi. Kondang misuwur. Sekolah kami, satu satunya SMU negeri yang hampir setengahnya siswanya berasal dari keturunan tiong hoa, memang terletak di kawasan pecinan, suatu area yang dikenal dengan sebutan Balong. Lidah jawa akan mengucapkannya sebagai Embalong.

Ketika kerusuhan rasial melanda kota, rumah sastrawan tersebut termasuk salah satu rumah warga keturunan tiong hoa yang tidak dirusak oleh massa. Mungkin karena sebagian besar massa adalah penikmat karyanya, atau mungkin karena sastrawan tersebut menikahkan salah satu anaknya dengan warga keturunan pribumi. Wallahua’alam.

Bila diibaratkan, milis ini mirip dengan surat kabar. Para pembacanya (baca: pelanggan) adalah sebagian besar kadin yang tinggal di pondok aren. Para kontributor tulisan, mirip dengan para jurnalis dan kolumnis di suratkabar. Salah satu keuntungan milis ini adalah, separah apapun tulisan kita, pasti akan dimuat oleh pak Eka. Paling-paling, kalau dirasa kurang pas, biasanya akan ditegur oleh moderator atau dihajar dengan kritikan oleh para pembaca. Dengan demikian, milis ini bisa menjadi media untuk berlatih menulis, sebelum kita menjadi seterkenal mas Narsip atau mas Nurul Bin Nahadi, yang tulisannya sering manggung di suratkabar beneran.  Para kontributor tulisan di milis ini, bolehlah dijuluki sebagai sastrawan milis. Nama pena para sastrawan milis inipun cukup sangar, ada yang berjuluk black biker, kembara 275, ibnu alias nurul, dsb. Sungguh semarak.

Salah satu tulisan ustadz Anis Matta di majalah Tarbawi, adalah mengenai sastra. Tulisan itu berkisah mengenai nasihat Umar Bin Khattab tentang bagaimana cara kita mendidik anak, agar anak menjadi pemberani. Didiklah anak untuk mencintai kesusasteraan, demikian nasihat Umar bin Khatab. Al Qur An, kalau boleh disebut sebagai karya sastra, adalah puncak mahakarya kesusasteraan. Inilah rahasianya, mengapa para qiyadah menganjurkan kita untuk sedikitnya membaca Al Qur An satu juz sehari. Nampaknya, kita diharapkan untuk menjadi pribadi pribadi yang senantiasa optimis dan pemberani. Juga, agar kita memiliki perkataan yang berkesan, sebagai modal utama seorang da’i.  Meskipun demikian, menyetor hafalan Al Qur An menjadi acara halaqoh yang paling disegani oleh sebagian besar kader.

Mengajarkan anak untuk mencintai kesusateraan berarti mengajarkan mereka untuk gemar membaca. Usaha untuk menumbuhkan kegemaran membaca, mendapat musuh yang berat dari televisi, dan keturunannya, play station. Bagaikan sebuah halaqoh, televisi menjadi murabbi yang efektif dan menyenangkan, karena materi yang diajarkannya sangat mudah diserap anak. Tanpa terasa, anak bisa menghabiskan waktu lebih dari empat jam sehari, di hadapan kotak ajaib tersebut.. Bayangkan kalau kita halaqoh beneran selama empat jam, niscaya duduk kita sudah resah gelisah, berkali kali melirik jam, dan menguap semakin sering. Konon kabarnya, mantan Jaksa Agung AS, Janet Reno, hampir tidak pernah menonton televisi. Mungkin, beliau ingin hatinya tetap jernih, saat sedang mengajukan tuntutan tuntutan hukum. Memang benar, apa apa yang kita lihat, berpotensi untuk mengotori hati.  

Sebagian besar para tokoh sejarah, adalah penikmat sastra. Salah satu dugaan kuat mengapa tentara Jerman tidak menghancurkan pasukan Inggris dalam perang Belgia, padahal kesempatan untuk itu sangat terbuka, adalah karena kekaguman Hitler terhadap Britania sebagai penghasil sastrawan kaliber dunia. Hitler menghentikan serangan, dan terjadilah adegan penyeberangan dunkirk yang terkenal itu, dimana ribuan pasukan Inggris yang telah terkepung, dengan menggunakan segala macam benda yang bisa mengapung di laut, menyeberangi selat dunkirk, pulang ke Inggris.

Selain pidato terkenalnya Thariq Bin Ziyad sebelum memulai perang Eropa, sejarah Islam juga mencatat banyak pidato-pidato puitis legendaris yang dibacakan menjelang peperangan. Dalam sebuah puisinya, penyair taufiq Ismail, yang sering menciptakan syair bagi lagu lagunya Bimbo, mengisahkan tentang penyair Aceh abad 19, Tuanku Cik Pantee Kulu. Beliaulah yang menggubah puisi Aceh yang legendaris, hikayat perang sabil. Puisi inilah yang dibacakan di hadapan pasukan Aceh, menjelang pasukan memulai peperangan. Puisi ini, ditulis Tuanku Cik Pantee Kulu sepulang melaksanakan ibadah haji, di atas kapal laut. Taufiq Ismail menggambarkan, ketika puisi gubahan Tuanku Cik Pantee Kulu tersebut diserahkan kepada panglima perang Tuanku Cik DiTiro, puisi ini seolah-olah berubah menjadi seribu rencong. Demikian hebatnya pengaruh pembacaan puisi ini di hadapan pasukan, sehingga seolah-olah mampu mendidihkan darah dan memanggang udara, demikian tulis Taufiq Ismail.

Oda Nobunaga, tokoh samurai pemersatu Jepang pada abad 16, yang hidup sejaman dengan tokoh samurai Mushashi, juga selalu berpidato sebelum memimpin peperangan. Pidatonya begitu puitis, hingga menggelorakan semangat para prajuritnya. Hidup ini hanyalah 50 tahun di bawah langit, demikian bunyi salah satu pidato puitisnya.   Pidato ini sedikit banyak menjelaskan, mengapa bangsa Jepang berlomba untuk meraih prestasi pada usia yang dini, karena mereka membayangkan seolah-olah hidup hanya sampai usia 50 tahun saja. Mirip dengan kita, masyarakat Muslim, yang membayangkan seolah-olah hidup hanya sampai usia 63 tahun.

Kata-kata yang sederhana, namun berkesan, ternyata mampu menggerakkan peristiwa besar, dan menjadi catatan sejarah.  Dalam sebuah peperangan, Jenghis Khan terkena panah lehernya. Beruntung, sang penakluk yang tersohor tersebut tidak sampai meninggal. Tim medis berhasil menyelamatkan nyawa Temujin, nama kecil Jenghis Khan. Ketika perang berakhir, dengan kemenangan di pihak  Jenghis Khan, Jebe, nama si pemanah yang sukses membidik leher Temujin tadi, berhasil diringkus dan dibawa ke hadapan Jenghis Khan, siap untuk dieksekusi. Di hadapan Temujin, Jebe mengatakan bahwa seandainya dia dibunuh, maka muncratan darahnya hanya akan mengotori bumi seluas telapak tangan saja, tidak lebih. Tetapi, kalau dia dibebaskan, dia berjanji akan membantu Jenghis Khan menaklukan negeri negeri yang luas. Berkat kata-kata Jebe yang mengesankan ini, Jenghis Khan membebaskannya, meskipun Temujin sempat berada di ambang batas hidup dan mati. Di kemudian hari, Jebe, yang menyandang gelar si pemanah, diangkat menjadi salah satu panglima Jenghis Khan dan menaklukan beberapa Negara di Asia. Jebe menepati janjinya.   

Ketika memulai penyerbuan ke Normandia, panglima gabungan sekutu dalam perang dunia kedua, Eisenhower, mengeluarkan kata kata perintah yang sederhana namun  berkesan: “kalian akan memasuki Eropa daratan dan menjalankan operasi-operasi militer yang dipusatkan ke jantung negara Jerman dan penghancuran angkatan bersenjatanya”. Perintah sederhana tersebut menggerakan lebih dari 4 juta tentara, 5 ribu kapal laut, 5 ribu pesawat pemburu, dan 6 ribu pesawat pembom ke dalam pertempuran memperebutkan Eropa.

Lagi lagi, mirip dengan kita. Kalimat perintah sederhana di layar hape, juga mampu menggerakkan ribuan kader kita, untuk memenuhi monas ataupun bunderan HI. Sebelum berkhidmat dalam gerakan da’wah, Syaikh Umar Tilmisani adalah seorang pengacara yang sukses secara materi. Beliau memiliki kegemaran memelihara binatang, sehingga halaman rumahnya mirip kebun binatang mini. Suatu hari, beberapa orang ikhwah yang bekerja sebagai penjaga pintu kereta api, bertamu ke rumah beliau. Para ikhwah tadi mengatakan, alangkah baiknya kalau kegemaran beliau memelihara binatang dialihkan kepada memelihara ummat Islam, karena ummat Islam jauh lebih layak untuk dipelihara. Kata-kata berkesan inilah yang mengubah perjalanan hidup beliau selanjutnya.

Meskipun demikian, kata kata yang terlalu berkesan, bisa membahayakan hubungan persahabatan diantara sesama anggota halaqoh. Ceritanya begini. Salah seorang anggota halaqoh, mulai sering tidak hadir di acara pekanan beberapa kali berturut turut, meskipun dengan pemberitahuan ke pak boss dan disertai dengan alasan. Pada hari dilaksanakannya acara pekanan, salah satu sahabatnya berinisiatif mengingatkan dengan mengirim sms yang berbunyi, akhi, apakah malam ini antum akan absen lagi sebagaimana pertemuan-pertemuan sebelumnya? Alasan apa lagi yang akan antum kemukakan hari ini?”.  Untunglah, anggota halaqoh yang menerima sms tadi, meskipun sempat tersinggung berat, masih memiliki cadangan maaf yang banyak, sehingga ketegangan bisa diredakan dengan cepat dan persahabatan menjadi pulih kembali. Berkat saling memaafkan. Alangkah indahnya ukhuwwah.

November 11, 2008 Posted by | Senyum dong | , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment

Yang Lainnya Mana

22 Juli 2008
Prajurit cadangan negara yahudi yang siap dibangunkan untuk apel siaga dalam tempo kurang dari 36 jam tersebut, tentulah kesehariannya bukan tentara. Mereka bisa berprofesi sebagai dokter, akuntan, konsultan, notaris, aktuaris, penilai, pengacara, dsb. Artinya, mereka juga memiliki kesibukan mencari uang. Dan kita tentu tahu, bagaimana etos kerja kaum yahudi dalam mencari uang, sangat yahud. Bila diibaratkan, prajurit cadangan adalah kader pendukung, tamhidi dan muayyid. Sedangkan prajurit aktifnya, adalah kader inti.

Saya tidak tahu, apakah jumlah prajurit aktif di seluruh kab tangerang jumlahnya bisa melebihi 1200 orang. Kalau ya, maka jumlah peserta mutu kemarin  masih sedikit. Dalam pengamatan saya setiap mengikuti mukhoyyam, saya menyimpulkan bahwa sebagian besar pesertanya adalah orang yang sama, itu itu juga, alias 4L, lu lagi lu lagi. Beberapa selebritis (maksudnya, ustadz, aleg, dan pejabat), hampir tidak pernah terlihat kala mukhoyyam. Semoga pengamatan ini salah. Kalau benar, semoga mereka memiliki uzur syari’e. Kalau tidak, mereka bisa dikategorikan sebagai kader 5A, afwan akhi ana ada acara.

Pada saat peserta mutu bergerak meninggalkan lokasi, ada teman yang mengkritisi, lagi lagi, masalah transportasi. Perbedaan moda transportasi, akan memunculkan kembali suara tidak sedap, mengenai adanya dua kubu, kubu keadilan dan kubu kesejahteraan. Grup yang anggotanya belum memiliki turonggo, akan mengikhlaskan dirinya menumpang si hijau dambaan ummat, kopaja. Sedangkan grup yang mewakili kubu yang lain, akan menikmati kabin yang sejuk dan empuk, sambil kepalanya gedhak gedhek mendengarkan dentuman suara house music yang mengiringi nasyid shouhar nan rancak. Uenak tenan.

November 11, 2008 Posted by | Senyum dong | , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment

Mana Yang Lainnya…

21 Juli 2008

Mazda RX 8, merupakan salah satu mobil yang mewakili ungkapan masyarakat jawa mengenai sosok kendaraan yang mumpuni, turonggo teji. Bagaimana tidak. Disaat mobil sport sekelasnya berbanderol miliaran rupiah, rx 8 hanya berharga di bawah lima ratus juta rupiah. Rahasianya terletak pada kapasitas mesin yang kecil, hanya 1300 cc, mirip dengan kapasitas mobil sejuta ummat, xeniavanza. Namun, tenaga yang dihasilkannya sungguh dahsyat, 250 dk. Sedangkan si sejuta ummat hanya 86 dk. Mazda mengklaim kecepatan maksimal mobil ini 235 km/jam. Bayangkan, rihlah ke bandung hanya ditempuh dalam hitungan menit, asal berangkatnya tengah malam, via cipularang. Mengapa kapasitas mesin yang kecil bisa menyemburkan tenaga yang hebat. Jawabannya terletak pada teknologi yang digunakan, renesis. Dengan teknologi ini, dalam waktu yang sama, piston rx 8 bisa menghasilkan beberapa ledakan, pada saat mobil yang lain hanya menghasilkan satu ledakan. Sayang, kondisi lalu lintas di Jakarta, menghalangi rx 8 menunjukkan kemampuannya.

PKS mungkin bisa disamakan dengan rx 8, kecil tapi berkemampuan besar. Dalam pidato penutupan di acara mutu kemarin, pak ruhama mengatakan bahwa seandainya saat ini ada panggilan jihad, setidak-tidaknya telah ada sejumlah kurang lebih 1200 peserta mutu yang akan menyambutnya. Memang, 1200 orang adalah jumlah yang sedikit, untuk ukuran kabupaten tangerang. Namun, keberhasilan keberhasilan peperangan, sebagian besar ditentukan oleh unit-unit militer yang kecil dan sedikit. Mereka adalah para pasukan para komando. Peperangan peperangan yang dialami oleh Rasulullah dan para sahabat, juga selalu menghadapi jumlah musuh yang lebih besar, kecuali Hunain.  Dalam perang Hunain, unit unit kecil para Muhajirin dan Anshorlah yang membalikkan keadaan, setelah sebagian besar yang lain tunggang langgang.

Meski demikian, berita di harian Kompas sungguh merisaukan hati. Negara Israel, ternyata mampu menggerak-aktifkan seluruh pasukan cadangannya, hanya dalam waktu kurang dari tiga hari. Ini baru luar biasa.

November 11, 2008 Posted by | Senyum dong | , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment

Rihlah Yes, Mukhoyyam …

16 Juli 2008

Diantara sekian peristiwa dimana saya merasakan do’a kita diistijabah langsung oleh Alloh adalah ketika mengikuti Mukhoyyam, dengan menu utamanya, melintasi punggung halimun. Nyaris tengah malam, menjelang puncak yang terjal, turunlah hujan, menjadikan lintasan becek dan licin. Rombongan di depan sudah tidak kelihatan, sementara rombongan di belakang masih jauh. Nyala senter sudah senin kemis, tenaga sudah hampir nol, dan berat ransel menjadi berlipat-lipat hingga rasanya mau dibuang saja. Saat itulah saya berdo’a agar Alloh memberikan tenaga, agar saya bisa menyusul rombongan di depan. Ajaib, kaki ini menjadi lincah kembali hingga akhirnya, saat dini hari, kaki yang lemah ini bisa mencapai puncak. Saya menangis terharu. Tentu saja, adegan menangis ini tidak diperlihatkan di hadapan teman-teman yang lain. Maklum, bisa merusak citra kejantanan. 

Tantangan terbesar bagi teman-teman kepanduan adalah mengemas salah satu perangkat tarbiyah ini menjadi sebuah acara yang sangat menarik untuk diikuti, bagaikan rihlah. Misalnya, bagaimana meyakinkan peserta bahwa di lokasi mukhoyyam telah tersedia tempat yang nyaman untuk memenuhi dua panggilan alam, BAK dan BAB.

Kemudian, masalah transportasi. Pada setiap acara mukhoyyam, selalu saja ada yang tidak kebagian tempat duduk, hingga harus melantai, walau tempat duduknya juga keras. Sementara itu, gaya mengemudi sang sopir, sangat disukai perusahaan antimo. Alangkah nyamannya kalau kita menyewa bus big bird yang ac nya dingin, yang bodinya bisa kita hiasi dengan spanduk PKS, misalnya.

Mengenai biaya yang akan membesar, bisa diatasi dengan tabungan mukhoyyam, sejak jauh-jauh hari. Acara rebutan bendera waktu ranger patrol, harus diarahkan bak rebutan bola di pertandingan american football. Kalau tidak diarahkan, kader yang di masa lalunya yang kelam hobi berantem, akan memperlihatkan keasliannya.

Long march boleh – boleh saja, asal sebelumnya, peserta jangan dilelahkan dahulu, outbound sampai klenger. Berangkat long march pagi-pagi, biar segar. Tidak lupa, sarapan dulu pecel lele. Pemilihan lokasi, usahakan yang terjangkau oleh layanan antar perusahaan katering. Nek iki guyon.

November 11, 2008 Posted by | Senyum dong | , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment

Hitam Sebelah

14 Juli 2008

Di daerah Solo dan Yogya, ada sebuah cerita mengenai orang yang pipinya hitam, tapi cuma  sebelah. Cerita ini merupakan guyonan terhadap para komuter bersepeda yang tinggal di sekitar bekas ibukota Mataram tersebut. Mereka berangkat pada pagi hari saat matahari terbit menyinari sebelah pipi mereka, dan pulangnya menjelang matahari terbenam, yang juga menyinari sebelah pipi yang sama.

Di jaman sekarang, sebagian besar pekerja tidak perlu berpipi hitam sebelah, karena mereka tidak pernah menjumpai matahari. Selepas salam dan dzikir ala kadarnya yang mengakhiri sholat Shubuh, mereka langsung melesat ke kantor. Pulangnya, selepas Isya. Semua ini dilakukan untuk menghindari kemacetan.  Keluarga yang di rumah, hanya menikmati penampakan sesaat, dua atau tiga jam saja. Itupun, kalau mereka masih hidup, belum tidur. Kalau rutinitas ini dilakukan oleh kaum wanita, kaum ibu, maka biasanya di akhir pekan mereka akan membanjiri anak-anak dengan materi. Ini untuk membayar rasa bersalah mereka, karena meninggalkan anak-anak. Malam-malam, sepulang dari kantor, setelah berkutat dengan kesibukan pekerjaan dan beberapa meeting yang melelahkan, mereka menjumpai buah hatinya sudah pada tidur. Sambil membetulkan letak selimut, mengecup pipi dan kening, berlinanglah air mata, sangat mengharap akhir pekan segera tiba. Tuk tuntaskan kerinduan. Lho, kok mirip adegan di sebuah sinetron. 

Dalam sebuah pengajian, murabbi saya yang di Bandung pernah membandingkan kondisi sekarang dengan jamannya fir’aun, dan beliau menemukan kemiripan, Jaman sekarang, menurut beliau, seolah-olah, hanya anak-anak perempuan saja yang dibiarkan hidup. Peluang kaum lelaki untuk mendapatkan pekerjaan, semakin kecil, karena mereka juga harus bersaing dengan kaum wanita, yang lebih banyak memiliki kelebihan. Lebih enak dipandang, lebih merdu suaranya, lebih santun, lebih nrimo digaji kecil, dan lebih lebih lainnya. Tiba-tiba, para bapak yang tadinya tidak sempat bersisir menjadi sangat rapi dan wangi. Mereka menjadi lebih bersemangat berangkat ke kantor karena mengharapkan perjumpaan dengan si dia, yang selain masih kinclong, juga enak diajak ngomong. Padahal, menurut ustadz Jumharudin,Lc saat menafsirkan surat Al Baqoroh, hanya Adamlah yang akan merasakan kepayahan ketika mereka berdua, bersama Siti Hawwa, diturunkan ke dunia, dari Surga.

Sekurang-kurangnya, terdapat dua bahaya yang mengancam, di tengah maraknya kiprah perempuan bekerja di luar rumah. Bahaya yang pertama, hilang atau berkurangnya kecemburuan dalam diri suami, yang dikenal dengan istilah dayuz.  Ketika sedang mengantri untuk mendapatkan pelayanan di sebuah instansi pemerintah miliknya Depkeu, saya melihat seorang ibu berjilbab, yang menurut dugaan saya adalah akhwat, yang sedang bercanda dengan seorang bapak dengan sangat akrab. Saya bertanya-tanya, bagaimana kalau suami ibu tadi melihat pemandangan tersebut. Cemburukah dia. Atau jangan-jangan, sang suamipun juga sering melakukan hal yang sama di kantornya. Jadi impas. Memang, sebagian besar wanita tidak memahami karakter pria. Dalam hubungan canda yang akrab seperti tadi, seorang pria bisa kehilangan dua pertiga akalnya, sementara sang wanita tidak merasakan apa-apa.  Ketika seorang laki-laki sudah kehilangan rasa cemburu, maka sesungguhnya dia telah mati sebelum mati. Mirip mayat hidup.

Bahaya kedua, munculnya keragu-raguan terhadap kemampuan Alloh dalam memberikan rizqi. Ibarat mobil, rumah tangga dimana suami dan isteri sama-sama bekerja di luar rumah, seperti mobil dengan double gardan. Ketika rumah tangga dengan penggerak ganda tersebut memutuskan untuk mematikan salah satu gardannya, dengan pertimbangan utama untuk menyelamatkan asset berharga mereka yaitu anak-anak, biasanya muncul keragu-raguan dalam benak suami, sanggupkan Alloh mencukupi rizqi mereka. Saat itu, kebutuhan hidup mereka sudah mengikuti penghasilan mereka berdua, bahkan agak sedikit melampaui. Sebenarnya, langkah yang dianjurkan adalah memindahkan gardan tersebut ke rumah, bukan mematikannya.

Kita tentu mengetahui betapa JK Rowling, pengarang Hary Potter, menjadi jutawan dari hasil royalty buku. Bukankah Siti Khadijah, isteri rasulullah SAW, adalah pedagang yang sukses.

November 11, 2008 Posted by | Senyum dong | , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment

Cemburu

10 Juli 2008

Dalam sebuah kesempatan mengikuti pengajian di masjid assaadah, ustadz yang menjadi pembicara menyampaikan sebuah fakta yang cukup menarik. Sayang, saya lupa nama ustadz tersebut. Menurut pengamatan beliau, anak anak balita yang diasuh oleh selain ibu mereka, akan memiliki ciri-ciri fisik yang sama dengan pengasuhnya. Rupanya, pendapat ustadz ini juga dibenarkan oleh isteri saya. Belahan jiwa saya inipun, ternyata juga sering mengamati, bagaimana anak-anak balita yang ibunya bekerja di luar rumah, akan memiliki wajah yang sama dengan wajah khadimatnya atau neneknya, tergantung siapa yang mengasuhnya. 

Ketika saya menceritakan penemuan ini kepada teman- teman satu grup, yang ternyata beberapa orang diantara mereka juga sudah mengetahuinya, salah seorang teman mencoba menawarkan jalan keluarnya. Kalau begitu, kata teman tadi, kita cari saja khadimat yang wajahnya mirip si anu, seraya menyebut nama artis wanita yang sedang naik daun. Wah wah, kata saya dalam hati, pekerjaan ini jauh lebih sulit dibanding memenangkan target eleksi 20%.

Yang masih menjadi pertanyaan saya, apakah kesamaan ciri fisik ini hanya berlangsung di periode balita saja, mengingat hubungan emosional yang sangat intim hanya terjalin di periode tersebut, dalam bentuk seperti suap menyuap, cebok mencebok, usap mengusap kala menidurkan, cipika cipiki, dsb, ataukah kesamaan ciri fisik ini akan berlangsung permanen.

Lagi lagi, saya kembali teringat dengan pengalaman di masa kecil, saat masih balita. Kala itu, khadimat yang mengasuh kami, pulang kampung, dan ternyata tidak kembali lagi. Karena kerinduan yang sangat, saya jatuh sakit. Ibunda kami menjadi sangat cemburu, dan bertekad tidak akan menggunakan lagi jasa khadimat untuk mengasuh anak-anaknya.

November 11, 2008 Posted by | Senyum dong | , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment

Belajar Memuji

30 Juni 2008

Ada sebuah buku yang pernah saya baca, dengan judul “rahasia kekuatan percakapan”, yang ditulis oleh James K Van Fleeth. Di dalam buku itu, James, yang berprofesi sebagai psikolog, menulis bahwa manusia memiliki 14 macam kebutuhan. Yang menarik, 9 macam kebutuhan diantara 14 macam kebutuhan tersebut, akan terpenuhi dengan pujian. Buku itu juga mengisahkan mengenai penelitian terhadap kinerja 10 orang tentara. Ketika para tentara tersebut dikritisi setelah selesai melaksanakan sebuah misi, maka  pada misi berikutnya, hanya 3 tentara yang sukses melaksanakannya. Sebaliknya, ketika para tentara tersebut dipuji setelah selesai melaksanakan sebuah misi, maka  pada misi berikutnya, 9 tentara sukses melaksanakannya.

Saya teringat dengan pengalaman sewaktu kecil, di masa SD, dimana televisi waktu itu masih monogami, hanya menyiarkan siaran TVRI. Ada sebuah acara sore hari yang sangat ditunggu-tunggu anak-anak, yaitu acara menggambar bersama pak Tino Sidin. Seburuk apapun gambar yang dikirim oleh anak-anak, pak Tino akan mengomentarinya dengan kata-kata yang sama, bagus. Saya termasuk yang sering mengirimkan gambar, walaupun belum pernah dimuat. 

Setiap orang, rentan akan pujian. Saya juga demikian, sangat suka dipuji, meskipun hanya sekedar basa basi. Pujian akan menggelorakan semangat, menumbuhkan kasih sayang. Keletihan seorang isteri setelah seharian mengurus rumah tangga dengan setengah lusin anak, akan sirna, manakala sang suami memuji penampilannya, memuji kelezatan masakannya (dalam hal ini, kata ustadz, diperbolehkan untuk berbohong). Ada yang mengatakan, mengurus rumah tangga jauh lebih meletihkan dibandingkan dengan pekerjaan pegawai KPK berbulan-bulan menyadap pembicaraannya Urip.

Teladan kita, Rasulullah SAW, memanfaatkan kekuatan pujian ini dengan baik, untuk mensukseskan da’wah beliau. Setiap sahabat mendapatkan gelar (pujian) dari beliau, Abu Bakar Ashiddiq, Umar Al faruq, dsb. Khadimat beliau, Anas, tidak pernah dikritisi atau dicela, selama mengabdi kepada beliau.

Dalam perang Tabuk (?) yang mensyahidkan tiga pahlawan Islam, Zaid, Ja’far, dan Abdullah bin rawahah,  Khalid bin Walid menarik mundur pasukan kembali ke Madinah, disambut dengan lemparan batu dan ejekan pengecut oleh anak-anak kecil penduduk Madinah. Rasulullah SAW, membela Khalid dan mengatakan bahwa itu hanyalah manuver peperangan. Sebuah pujian. Dalam penaklukan Mekah, Abu Sufyan, sang walikota, juga beliau puji dengan kata-kata, yang masuk rumah Abu Sufyan akan aman. Mengingat Abu Sufyan adalah type manusia yang suka diagung-agungkan (seperti halnya kita, …diakui atau tidak).

Saudara-saudaranya nabi Yusuf as, juga piawai memanfaatkan khasiat pujian ini. Pujian mereka, diabadikan di dalam surat Yusuf ayat 91. Ayat ini pulalah yang melumerkan hati Rasulullah SAW kepada pamannya, Abu Sufyan bin Al Harits, menjelang penaklukan Mekah. Waktu itu, Abu Sufyan sibuk meminta maaf kepada Rasulullah, sedangkan Rasulullah SAW selalu menghindar. Ali menyarankan Abu Sufyan untuk membacakan ayat tersebut di depan Rasulullah, dan Rasulullahpun membalas dengan membaca ayat berikutnya, ayat 92.

Sebaliknya, kritik akan memunculkan permusuhan. Kritiklah seseorang di depan umum, maka anda akan memiliki musuh di sepanjang sisa umur anda, tulis James Van Fleeth. Kita juga telah diajarkan oleh ustadz kita, untuk berahasia di dalam menasihati. Kalau antum menasihati anggota milis melalui milis, saya meragukan efektifitas nasihat tadi. Menurut saya, antum sedang menciptakan musuh baru, yang sekarang sedang giat meneliti kelemahan dan aib-aib antum, untuk kemudian balas menyerang di saat yang tepat. Tit for tat. Cucunda Rasulullah SAW, Hasan dan Husain, memberikan teladan yang baik dalam menasihati orang lain, ketika mereka mendapati seorang tua yang salah dalam berwudlu. Kelanjutan kisahnya dapat ditanyakan ke ustadz Ade Tifatul Pranowo.

Dalam tulisan saya sebelumnya, yang berjudul hino atau izusu panther, saya menulis tentang ikan dan pancing. Menurut saya, sumber ikan dan pancing yang terbesar ada di pihak eksekutif. Kalau legislatif sering melancarkan kritik kepada eksekutif, yang akan diartikan sebagai sikap permusuhan, maka kita tidak usah berharap untuk mendapatkan ikan yang besar dan pancing yang panjang. Kalau kita bisa memenuhi 9 dari 14 kebutuhan sang eksekutif, maka saya yakin bahwa sang eksekutif akan membalas pemberian tersebut, karena manusia yang normal akan membalas kebaikan yang diberikan oleh orang lain, kalau masih normal. 

Siapa tahu, suatu hari nanti, kita akan memanggil Bupati Ismet Iskandar dengan panggilan akhi Ismet, karena kita satu grup ? Da’wah adalah seni menaklukkan hati.

November 11, 2008 Posted by | Senyum dong | , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.